Rabu, 19 Februari 2014

TUJUAN PEMERINTAH DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA GENETIK TERNAK

tujuan pemerintah dalam pengelolaan sumber daya genetik ternak.


Sebagai wujud komitmen Indonesia pada tingkat global yang terkait dengan upaya pelestarian dan pemanfaatan KH serta peningkatan kerjasama internasional, Indonesia berperan aktif dalam berbagai forum internasional untuk pengelolaan sumber daya genetik yang berkelanjutan. Beberapa kesepakatan internasional berkenaan dengan pengelolaan sumber daya genetik yang telah ditandatangani antara lain : Konvensi PBB mengenai Keanekaragaman Hayati tahun 1992 (United Nations Convention on Biological Diversity/CBD) ; Cartagena Protocol on Biosafety tahun 2000; Bonn Guidelines on Access to Genetic Resources and Fair and Equitable sharing of the Benefits Arising out of Their Utilization tahun 2002; dan lain.
Konvensi Keanekaragaman Hayati (KKH) memuat kesepakatan internasional untuk konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya hayati serta menunjang adanya pembagian keuntungan yang adil dalam pemanfaatan komponen-komponen sumber daya genetik tersebut. Dalam konvensi ini telah digariskan pula kesepakatan mengenai perlunya pengaturan hak-hak atas plasma nutfah (sumber daya genetik/SDG), hak-hak petani, keamanan hayati, hak-hak kepemilikan intelektual dan lain sebagainya. Indonesia telah meratifikasi Konvensi tersebut dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1994. Indonesia berkeyakinan bahwa upaya pelestarian mutu dan pengelolaan lingkungan termasuk KH perlu ditujukan untuk mendukung hubungan ekonomi dan perdagangan global yang menguntungkan semua pihak, terutama negara pemilik SDG.
Dalam konteks pertanian, ekosistemnya bersifat spesifik dan merupakan buatan manusia. Secara tradisional, agroekosistem mempunyai keragaman tanaman, ternak, ikan, dan jasad renik yang relatif tinggi; biasanya spesies yang di tanam/budidayakan bervariasi dengan pola tanam polikultur. Pada pertanian modern, kecenderungan yang terjadi adalah pertanaman/budidaya secara monokultur sehingga keragaman spesies/varietas/galur lebih sempit.
Diantara berbagai KH yang dipengaruhi oleh keragaman dalam lingkungan dan keragaman dalam jenis (plasma nutfah), SDG pertanian (agrobiodiversity) merupakan salah satu plasma nutfah (PN) yang sangat mendesak untuk diamankan dari kepunahan maupun terjadinya erosi potensi genetiknya. Sebab SDG pertanian secara riil telah dan terus akan dimanfaatkan bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat, baik pada tingkat lokal, regional, nasional, maupun global.
Saat ini banyak kerancuan pemahaman, bahwa sebagai negara mega-biodiversity secara otomatis Indonesia kaya akan koleksi PN. Kondisi yang ada adalah sebaliknya, Indonesia justru sangat miskin koleksi PN yang dapat dimanfaatkan secara riil dalam proses perakitan varietas atau bibit unggul.

1. Eksplorasi
Eksplorasi adalah kegiatan mencari, mengumpulkan, serta meneliti jenis varietas lokal tertentu (di daerah tertentu) untuk mengamankan dari kepunahannya. Langkah ini diperlukan guna menyelamatkan varietas-varietas lokal dan kerabat liar yang semakin terdesak keberadaannya, akibat semakin intensifnya penggunaan varietas-varietas unggul baru. Kegiatan eksplorasi sebaiknya dilakukan di daerah sentra produksi, daerah produksi tradisional, daerah terisolir, daerah pertanian lereng-lerang gunung, pulau terpencil, daerah suku asli, daerah dengan system pertanian tradisional/belum maju, derah yang masyarakatnya menggunakan komoditas yang bersangkutan sebagai makanan pokok, daerah epidemik hama/penyakit, serta daerah transmigrasi lama dan baru.
Dalam lima tahun terakhir, telah dilakukan serangkaian kegiatan eksplorasi ke Provinsi Sulawesi Tengah, Provinsi Irian Jaya, Kabupaten Sukabumi dan Lebak (Jawa Barat) (tahun 1998/1999), Provinsi Kalimantan Timur, Provinsi Riau dan Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat) (tahun 2000), Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur (2001), Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan (2002), Provinsi Sulawesi Tenggara (2003), serta Provinsi Kalimantan Timur dan Jawa Barat (2005).
Untuk memperkaya dan menambah koleksi maka dilakukan introduksi plasma nutfah dari luar negeri melalui kerja sama dengan lembaga-lembaga penelitian internasional seperti International Rice Research Institute (IRRI, Philippine) untuk plasma nutfah padi, International Crops Research Institute for the Semi Arid Tropics (ICRISAT, India) untuk plasma nutfah sorgum, Centro Internacional de Mejoramiento de Maiz y Trigo (CIMMYT, Mexico) untuk plasma nutfah jagung, Asian Vegetable Research Development Centre (AVRDC, Taiwan) untuk plasma nutfah kacang-kacangan serta Centro Internacional de la Papa (CIP, Peru) dan Centro Internacional de Agricultura Tropical
Sementara itu untuk plasma nutfah mikroba pertanian, kegiatan eksplorasi terutama Rhizobium telah dimulai sejak tahun 1988 dengan adanya kerjasama antara Pemerintah Indonesia (dalam hal ini dilaksanakan oleh Balai Penelitian Tanaman Pangan / BALITTAN / BB-Biogen ) dengan Pemerintah Jepang (dilaksanakan oleh the Japan International Cooperation Agency / JICA). Setelah kerjasama tersebut, kegiatan eksplorasi masih tetap berlangsung dan secara intensif dilakukan terutama pada saat adanya kerjasama dengan Pemerintah Australia melalui ACIAR. Dengan demikian, koleksi isolat Rhizobium merupakan koleksi paling banyak dan paling luas daerah asal pengambilannya dalam daftar koleksi plasma nutfah mikroba pertanian BB. Biogen. Selanjutnya tahun 2002 hingga saat ini kegiatan eksplorasi lebih banyak dilakukan pada mikroba endofitik tanaman pangan dari daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Lampung, dan Kalimantan Selatan dan mikroba yang berpotensi sebagai agen bioremediasi untuk tanah pertanian yang tercemar logam berat (Pb dan Cd). Isolat-isolat patogen tanaman khas Indonesia banyak dikoleksi dari daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung. Kegiatan eksplorasi masih akan dilanjutkan terutama untuk menambah koleksi mikroba yang berpotensi sebagai agen biokontrol. (CIAT, Columbia) untuk plasma nutfah ubi-ubian.


2. Konservasi
Dikenal dua macam cara konservasi, yaitu in situ dan ex situ. Pelestarian in situ bersifat pasif, dapat terlaksana hanya dengan mengamankan tempat tumbuh alamiah suatu jenis. Dengan demikian jenis-jenis tertentu diberi kesempatan berkembang dan bertahan dalam keadaan lingkungan alam dan habitatnya yang asli, tanpa campur tangan manusia. Kawasan konservasi in situ meliputi suaka alam (cagar alam dan suaka margasatwa) dan kawasan pelestarian alam (taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam). Sementara pelestarian ex situ
Konservasi plasma nutfah tanaman pangan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian-Bogor dilakukan secara ex situ dalam bentuk: bersifat aktif, yaitu dengan cara memindahkan sesuatu jenis ke suatu lingkungan atau tempat pemeliharaan baru di luar habitat alamiahnya. Dalam hal ini, tempat pelestarian dapat berupa kebun koleksi, penyimpanan benih, kultur jaringan, kultur serbuk sari, atau kultur bagian tanaman yang lainnya.
bank gen koleksi benih untuk plasma nutfah padi, jagung, sorgum, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, kacang-kacangan minor (kacang tunggak, kacang gude, komak, kacang bogor, dan kacang koro) dan gandum. Bank gen untuk penyimpanan benih padi, jagung dan kacang-kacangan tersebut berlokasi di Laboratorium Bank Gen dan Genetika Tanaman, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian-Bogor.
bank gen di lapang (field gene bank) untuk plasma nutfah ubikayu, ubijalar dan ubi-ubian minor (ubi kelapa, talas, gembili, ganyong, patat dan iles-iles). Field gene bank ubi-ubian berlokasi di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian - Bogor (koleksi inti plasma nutfah ubijalar dan beberapa koleksi plasma nutfah ubijalar dataran rendah), Kebun Percobaan Cikeumeuh- Bogor (koleksi plasma nutfah ubijalar dataran rendah dan koleksi plasma nutfah ubi-ubian minor), Kebun Percobaan Pacet, Cianjur (koleksi plasma nutfah ubijalar dataran tinggi dan koleksi talas) dan Kebun Percobaan Muara, Bogor (koleksi plasma nutfah ubikayu).
konservasi secara in vitro untuk plasma nutfah ubikayu, ubijalar dan talas di Laboratorium In Vitro, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian - Bogor.
Untuk program kegiatan mendatang, telah direncanakan program kegiatan konservasi plasma nutfah tanaman pangan secara in vitro (sedang dikembangkan pada ubijalar, ubikayu dan talas) dan kriopreservasi, serta karakterisasi plasma nutfah tanaman pangan secara molekular (telah dimulai pada komoditas padi dan ubijalar).
Dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai bank gen untuk working collection, Laboratorium Bank Gen dan Genetika Tanaman memberikan layanan permintaan benih kepada pengguna dalam jumlah yang ditentukan untuk tujuan penelitian dan pengembangan. Para pengguna juga dapat memanfaatkan Katalog Tahunan Plasma Nutfah Tanaman Pangan yang memuat informasi mengenai karakteristik dari aksesi-aksesi plasma nutfah yang dikoleksi.

Jumlah koleksi plasma nutfah yang tersimpan dalam Bank Gen Tanaman Pangan hingga tahun 2005 adalah sebanyak 10.562 aksesi yang meliputi 3.800 aksesi padi, 800 aksesi jagung, 210 aksesi sorgum, 900 aksesi kedelai, 1.194 aksesi kacang tanah, 1.024 aksesi kacang hijau, 141 aksesi kacang-kacangan minor, 88 aksesi padi liar dan 64 aksesi gandum yang disimpan pada suhu 14o - 18o C untuk kondisi jangka pendek (short term), suhu 0o - -5o C untuk kondisi jangka menengah (medium term) dan suhu -18o - -20o C untuk kondisi jangka panjang (long term). Terdapat pula sebanyak 1.506 aksesi ubijalar, 434 aksesi ubikayu dan 431 aksesi ubi-ubian minor yang dikonservasi di lapang. Selama periode waktu tertentu, secara periodik dilakukan kegiatan pembaharuan (rejuvenasi) terhadap benih-benih yang telah mengalami penurunan daya tumbuh.
Koleksi mikroba pertanian diperoleh dari deposit kolektor dari kelompok kerja Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen) dan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro). Deposit tersebut terdiri atas: 32 fungi patogenik, 48 bakteri patogenik, 690 bakteri penambat N, 55 bakteri endofitik, 14 bakteri filosfer, 1 bakteri pelarut P, 36 bakteri bioremediasi, dan 33 isolat penghasil khitosanase. Koleksi tersebut merupakan koleksi dasar yang pemakaiannya membutuhkan persetujuan kolektor, kecuali untuk Ralstonia solanacearum T926 dan Phytophthora capsici Eg01 yang merupakan koleksi aktif.
Konservasi mikroba pertanian dilakukan secara kering beku (liofilisasi) dalam tabung ampul, menggunakan minyak mineral, konservasi dalam agar miring serta konservasi dalam media tanah.

3. Karakterisasi dan evaluasi
Karakterisasi merupakan kegiatan dalam rangka mengidentifikasi sifat-sifat penting yang bernilai ekonomis, atau yang merupakan penciri dari varietas yang bersangkutan. Trait yang diamati dapat berupa karakter morfologis (bentuk daun, bentuk buah, warna kulit biji, dan sebagainya), karakter agronomis (umur panen, tinggi tanaman, panjang tangkai daun, jumlah anakan, dan sebagainya), karakter fisiologis (senyawa alelopati, fenol, alkaloid, reaksi pencoklatan, dan sebagainya), marka isoenzim, dan marka molekular.
Evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan guna mengidentifikasi kandungan senyawa gisi (protein, lemak, vitamin, dan sebagainya) serta bagaimana reaksi varietas tanaman terhadap cekaman faktor biotik (ketahanan terhadap hama, penyakit) dan abiotik (toleransi kekeringan, toleransi keracunan Fe, toleransi keracunan Al, toleransi kadar garam tinggi, toleransi lahan masam).
Kegiatan karakterisasi dan evaluasi memiliki arti dan peran penting yang akan menentukan nilai guna dari materi plasma nutfah yang bersangkutan. Kegiatan karakterisasi dan evaluasi dilakukan secara bertahap dan sistematis dalam rangka mempermudah upaya pemanfaatan plasma nutfah. Kegiatan tersebut menghasilkan sumber-sumber gen dari sifat-sifat potensial yang siap untuk digunakan dalam program pemuliaan.
Untuk plasma nutfah mikroba pertanian, karakterisasi dilakukan terhadap sifat-sifat biokimia, fisiologis, genetik, dan potensi/prospek dari mikroba yang ada. Beberapa potensi mikroba yang telah tersimpan di kultur koleksi mikroba BB-Biogen adalah sebagai agen biofertilizer, agen biokontrol, dan agen biopestisida. Beberapa isolat mikroba pertanian telah dikarakterisasi secara genetik, terutama dari kelompok bakteri Rhizobium dengan menggunakan teknik shizotyping / MFLP (Macrorestriction Fragment Length Polimorphisms).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar