Rabu, 19 Februari 2014

STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN


B A B I
PENDAHULUAN

Komunikasi dan pembangunan merupakan dua hal yang saling berhubungan erat, dimana Siebert, Peterson dan Schramm (1956) menyatakan bahwa dalam mempelajari sistem komunikasi manusia, seseorang harus memperhatikan beberapa kepercayaan dan asumsi dasar yang dianut suatu masyarakat tentang asal usul manusia, masyarakat dan Negara.
Strategi pembangunan menentukan strategi komunikasi, maka makna komunikasi pembangunan pun bergantung pada modal atau paradigma pembangunan yang dipilih oleh suatu negara. Peranan komunikasi pembangunan telah banyak dibicarakan oleh para ahli, pada umumnya mereka sepakat bahwa komunikasi mempunyai andil penting dalam pembangunan.
Everett M. Rogers (1985) menyatakan bahwa, secara sederhana pembangunan adalah perubahan yang berguna menuju suatu sistem sosial dan ekonomi yang diputuskan sebagai kehendak dari suatu bangsa. Dia juga menyatakan bahwa komunikasi merupakan dasar dari perubahan social pada suatu bangsa. Perubahan yang dikehendaki dalam pembangunan tentunya perubahan ke arah yang lebih baik atau lebih maju dari sebelumnya. Oleh karena itu peranan komunikasi dalam pembangunan harus dikaitkan dengan arah perubahan tersebut. Artinya kegiatan komunikasi harus mampu mengantisipasi gerak pembangunan.
Pembangunan merupakan proses yang penekanannya pada keselarasan antara aspek kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah. Jika dilihat dari segi ilmu komunikasi yang juga mempelajari masalah proses, yaitu proses penyampaian pesan seseorang kepada orang lain untuk merubah sikap, pendapat dan perilakunya. Maka pembangunan pada dasarnya melibatkan minimal tiga komponen yakni komunikator pembangunan (bisa aparat pemerintah atau masyarakat), pesan pembangunan yang berisi ide atau program pembangunan dan komunikan pembangunan, yaitu masyarakat luas sasaran pembangunan.
Dengan demikian pembangunan di Indonesia adalah rangka pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia harus bersifat pragmatik yaitu suatu pola yang membangkitkan inovasi bagi masa kini dan yang akan datang. Dalam hal ini tentunya fungsi komunikasi harus berada di garis depan untuk merubah sikap dan perilaku manusia Indonesia sebagai pemeran utama pembangunan, baik sebagai subjek maupun sebagai objek pembangunan.
B A B II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Komunikasi Pembangunan
Pembangunan merupakan serangkaian usaha yang dilakukan secara sadar dan berencana serta berkelanjutan oleh suatu bangsa dengan harapan membawa perubahan dan pertumbuhan guna mempercepat modernisasi kehidupan bangsa untuk pencapaian tujuan akhir bangsa tersebut. Aspek-aspek pembangunan telah mengalami perubahan sejak komunikasi pembangunan mulai dikenal di Indonesia pada awal 1970-an baik dalam organisasi strategi penanggulangan kemiskinan maupun penggunaan media komunikasi (Agusta, 2007).
Dalam kaitannya dengan pembangunan nasional dewasa ini, pemerintah telah menitik beratkan pada usaha meningkatkan aktivitas pembangunan di sektor pedesaan yang mempunyai nilai strategis dalam konteks pembangunan nasional. Hal ini dikarenakan sebagian besar (80%) penduduk Indonesia pada kenyataannya bermukim di pedesaan yang merupakan potensi yang tinggi untuk sumber daya manusia dan sumber-sumber kekayaan alam (Gumilar, 2008). Oleh karena itu, pembangunan perdesaan merupakan bagian yang penting dan tidak terpisahkan dari pembangunan nasional, sehingga pembangunan Daerah Tingkat I meletakkan kerangka bagi bangsa Indonesia untuk tumbuh dan berkembang di atas kemampuan sendiri.
Masyarakat perdesaan hidup dengan berbagai latar belakang tradisi yang memiliki nilai-nilai sosial tertentu yang di antara nilai sosial tersebut bersifat kurang menunjang. Hal ini merupakan tantangan pelaku pembangunan nasional dalamupaya membangun masyarakat secara menyeluruh tanpamenimbukan jurang komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Bagi pembangunan pertanian, tingkat pendidikan petani yang rendah merupakan salah satu permasalahan yang sangat penting pula untuk diperhatikan. Dari segi pendidikan, sebagian besar petani Indonesia berpendidikan Sekolah Dasar  (SD:40,73%) dan bahkan yang tidak tamat SD juga tergolong banyak (47,33%). Sedangkan petani yang mempunyai pendidikan SLTA hanya sebesar 4,62% dan pendidikan tinggi (akademi/universitas) tergolong paling sedikit sekali (0,39%). Data-data ini menunjukkan mutu atau kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh sektor pertanian Indonesia. Sumberdaya petani Indonesia yang rendah ini merupakan salah satu sebab utama dari rendahnya produktivitas para petani Indonesia (Henuk, 2008).
Keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada tersedianya prasarana material tetapi juga bergantung pada tersedianya prasarana moral yaitu peraturan tata tertib dan sikap mental serta adat kebiasaan yang bersifat positif dan favourable yaitu berupa pandangan yang dapat sejalan dan memberikan dorongan kepada berhasilnya suatu pembangunan. Oleh karena itu, usaha untuk mengubah sikap mental masyarakat dari sikap yang cenderung kurang mendukung sehingga dapat menerima konsepsi-konsepsi pandangan yang bersifat dinamis dan maju perlu dilaksanakan. Keterlibatan berbagai pihak, baik dari manusia penggeraknya dengan sarana dan prasarana yang tersedia seperti potensi alam nilai budaya dan juga kesediaan masyarakat yang ingin dibangun. Sebaliknya kemampuan mempengaruhi dan menggerakkan potensi-potensi yang tersedia akan mendorong kesadaran masyarakat untuk lebih aktif dalam kegiatan pembangunan.
Konsep komunikasi pembangunan dapat dilihat dalam arti luas dan arti sempit. Dalam arti luas, komunikasi pembangunan meliputi peran dan fungsi komunikasi (sebagai suatu aktivitas pertukaran pesan secara timbal balik) di antara semua pihak yang terlibat dalam usaha pembangunan; terutama antara masyarakat dengan pemerintah, sejak dari proses perencanaan, kemudian pelaksanaan, dan penilaian terhadap pembangunan. Dalam arti sempit, komunikasi pembangunan merupakan segala upaya dan cara, serta teknik penyampaian gagasan, dan keterampilan-keterampilan pembangunan yang berasal dari pihak yang memprakarsai pembangunan dan ditujukan kepada masyarakat luas. Kegiatan tersebut bertujuan agar masyarakat yang dituju dapat memahami, menerima, dan berpartisipasi dalam melaksanakan gagasan-gagasan yang disampaikan (Gumilar, 2008).
Dalam karyanya, Schramm (1964) merumuskan tugas pokok komunikasi dalam suatu perubahan sosial untuk pembangunan nasional, yaitu:
1. Menyampaikan informasi tentang pembangunan nasional kepada masyarakat agar dapat memusatkan perhatian pada kebutuhan akan perubahan, kesempatan dan cara mengadakan perubahan, sarana-sarana perubahan, dan membangkitkan aspirasi nasional.
2. Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengambil bagian secara aktif dalam proses pembuatan keputusan, memperluas dialog agar melibatkan semua pihak yang membuat keputusan mengenai perubahan, memberi kesempatan kepada para pemimpin masyarakat untuk memimpin dan mendengarkan pendapat rakyat kecil, serta menciptakan arus informasi yang berjalan lancar dari bawah ke atas.
3. Mendidik tenaga kerja yang diperlukan dalam pembangunan yang mendukung proses untuk mengubah hidup masyarakat.
Norton et al. (2006) menyatakan bahwa dalam rangkaian komunikasi pembangunan pertanian dan perdesaan saat ini membutuhkan sistem penelitian yang berkaitan dengan lembaga lingkup internal maupun eksternal yang mampu menghasilkan teknologi tepat guna (teknologi yang mampu memecahkan permasalahan terhadap isu yang berkembang di dunia saat ini), yaitu: jumlah dan pertumbuhan penduduk, kemiskinan, kebutuhan energi, ketahanan pangan, degradasi lingkungan dan perubahan iklim); menyaring, menyesuaikan, dan memproduksi teknologi dan lembaga baru; serta melakukan baik uji coba di stasiun (lahan terbatas) maupun di lahan usaha tani.
B.     Strategi Komunikasi Pembangunan
Stategi adalah cara dan atau taktik untuk mencapai tujuan atau “perencanaan dan manajemen untuk mencapai tujuan” (tidak hanya peta jalan tapi juga taktik operasionalnnya). Adapun komunikasi memiliki arti proses penerusan faktor-faktor, kepercayaan, sikap, reaksi emosi atau lain-lain pengetahuan antar individu dalam masyarakat. Komunikasi adalah proses mengubah perilaku orang lain. Proses komunikasi pada hakekatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran dapat berupa gagasan, informasi, maupun opini. Adapun perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keragu-raguan, kekhawatiran, kemarahan, maupun keberanian.
Berdasarkan model komunikasi linier (Lasswell, 1946) yang saat ini telah berlaku menjadi komunikasi yang lebih partisipatif, unsur komunikasi ada lima yaitu: komunikator (communicator, sender, dan source), pesan (message), media (channel), komunikan (communicant, communicatee, receiver, recipient), dan efek (effect). Dengan demikian, menurut definisi ini, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.
Komunikasi akan berhasil apabila pikiran disampaikan dengan perasaan yang disadari, sebaliknya komunikasi akan gagal apabila sewaktu menyampaikan pikiran, perasaan tidak terkontrol. Pikiran bersama perasaan yang akan disampaikan kepada orang lain dinamakan picture in our head. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana caranya agar gambaran dalam benak dan isi kesadaran pada komunikator yang oleh Laswell dinyatakan sebagai pesan itu dapat dimengerti, diterima, dan bahkan dilakukan atau diterapkan oleh komunikan.
 Strategi komunikasi adalah paduan antara perencanaan komunikasi (Communication Planning) dengan manajemen komunikasi (Communication Management) untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Onong, 1989:35). Untuk mencapai tujuan tersebut strategi komunikasi harus mampu menunjukkan bagaimana operasionalnya secara praktis harus dilakukan. Dalam arti kata bahwa pendekatan (aproach) dapat berbeda sewaktu-waktu bergantung pada situasi dan kondisi. Strategi komunikasi adalah keseluruhan perencanaaan, taktik, cara yang akan dipergunakan guna melancarkan komunikasi dengan memperhatikan keseluruhan aspek yang ada pada proses komunikasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Fungsi strategi komunikasi (Mulyana, 2003) adalah: (1) menyebarluaskan pesan komunikasi secara sistematik untuk memperoleh hasil optimal, (2) menjembatani cultural gappenggunaan media massa supaya tidak merusak nilai budaya.Secara sederhana Strategi komunikasi dapat dirumuskan dengan mengkaji secara mendalam tentang “Teori Lasswell”, yaitu:Who? Says what? In which channel? To whom? With what effect?. Apabila kita sudah tahu sifat komunikasi, tahu efek yang akan dicapai maka dapat dipilih “cara mana yang akan dipilih” (terkait dengan media). Pemilihan cara mana yang akan dipilih untuk berkomunikasi dapat dilakukan dengan memilih dua pilihan yaitu: (1) Face to face communication atau (2) Mediated communication yang terdiri atas komunikasi tatap muka untuk perubahan tingkah laku (behavioral changes) dan komunikasi dengan media untuk komunikasi informatif.
Peran komunikasi pembangunan untuk berbagi pengetahuan (knowledge-sharing model) secara setara memusatkan perhatian kepada posisi yang setara antara pemberi dan penerima manfaat pembangunan (benefactors and beneficiaries). Dalam posisi setara ini keduanya saling mempengaruhi dan berbagi pengetahuan. Di sini dikombinasikan antara paradigma dominan dan kritis, karena dipandang menjadi lebih lengkap dalam menjalankan komunikasi pembangunan. Adapun menurut Hornik (1988) komunikasi di dalam aktivitas pembangunan, khususnya pada bidang pembangunan pertanian dan perdesaan, memiliki beberapa peran di antaranya adalah sebagai penghubung antar kelembagaan, penguat pesan, dan sekaligus sebagai akseletator dalam berinteraksi.
Dengan demikian, strategi komunikasi dalam pembangunan pertanian dan perdesaan adalah keseluruhan perencanaaan, taktik, cara yang akan digunakan pelaku pembangunan pertanian untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan pertanian kepada petani dengan memperhatikan keseluruhan aspek yang ada melalui berbagai media komunikasi untuk mencapai tujuan pembangunan pertanian dan perdesaan yaitu untuk kesejahteraan petani. Dalam penyusunan strategi komunikasi pembangunan pertanian dan perdesaan unsur komunikasi Lasswell perlu dikembangkan lagi menjadi suatu konteks yang lebih aktif tanpa mengesampingkan aspek budaya masyarakat. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Littlejohn dan Karen (2005) pada Tabel 1 bahwa dalam kaitannya dengan komunikasi termasuk dalam aspek komunikasi pembangunan, perlu memperhatikan unsur-unsur: 1) The communicator(komunikator); 2) The massage (pesan), 3) The Conversation(percakapan), 4) The relationship (hubungan), 5) Group and Organizations (kelompok dan organisasi), 6) The media (media), serta 7) Society and Culture (masyarakat dan kebudayaan).


B A B III
PEMBAHASAN
Komunikasi pembangunan yang berkembang saat ini masih cenderung tertuju pada proses komunikasi yang belum merespons globalisme pembangunan dan masih terbatas pada positivisme, post-positivisme dan teori kritis. Dalam menghadapi tuntutan peningkatan daya saing di era globalisasi ini, perlu dirancang suatu strategi komunikasi pembangunan yang mengedepankan masyarakat dengan dimensi kulturalnya sebagai pemegang kekuasaan.
Tidak ada model pembangunan yang universal; pembangunan adalah sebuah kesatuan (integral), proses multidimensi dan dialektikal yang dapat berbeda dari masyarakat ke masyarakat. Paradigma terdahulu tidak berhasil dalam menyelesaikan pertumbuhan ekonomi dengan keadilan sosial. Paradigma pembangunan saat ini dibuat untuk pendekatan masalah dari kebebasan dan keadilan yang berhubungan dengan tekanan antara individu dan masyarakat, serta keterbatasan pertumbuhan yang tidak dapat dipisahkan dengan interaksi antara masyarakat dan alam.
Dalam usulan strategi komunikasi pembangunan terdapat lima komponen substansial yang diperlukan untuk mengidentifikasi pendekatan komunikasi pembangunan yaitu: (1) Interdisiplin (interdisciplinarity) antar cabang ilmu pengetahuan; (2) Kekuatan homogenitas dan diversitas budaya; (3) Bentuk baru modernisasi; (4) Negara-bangsa dan budaya nasional; serta (5) Keterkaitannya dengan lingkungan global dan lokal.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) seperti komputer dan teknologi komunikasi, khususnya internet dapat digunakan untuk meningkatkan akses informasi pembangunan, meningkatkan transparansi dan efisiensi layanan pemerintah, memperbesar partisipasi secara langsung dari masyarakat dalam proses demokrasi, meningkatkan peluang perdagangan dan pemasaran, memperbesar pemberdayaan masyarakat termasuk bagi perempuan, serta menciptakan jaringan dan peluang pendapatan untuk wanita. Dalam penyusunan strategi komunikasi pembangunan dan perdesaan perlu dirancang suatu lembaga yang mampu menjembatani kesenjangan tersebut yang dapat berupa lembaga swadaya masyarakat maupun sektor swasta yang memberikan perhatian pada pembangunan pertanian dan perdesaan semacam Pusat Informasi Pembangunan.


B A B IV
KESIMPULAN
Strategi komunikasi pembangunan merupakan langkah-langkah atau tahapan yang harus dilakukan secara matang, terukur dan terarah demi mencapai percepatan pembangunan manusia itu sendiri dalam berbagai aspek.
Strategi komunikasi pembangunan yang efektif dilakukan dengan beberapa langkah antara lain : adanya planning yang matang, menentukan sasaran dan tujuan penyampaian pesan, pembentukan pesan yang sesuai tujuan, pemilihan jenis media yang egektif dan sesuai sasaran serta melakukan evaluasi akhir dari hasil strategi yang dilakukan.
Baik pembangunan kemandirian yang mencakup pendidikan, kebudayaan, ekonomi, social maupun pembangunan yang mengarah pada kesejahteraan hidup selaku mahkluk yang berinteraksi seperti pembangunan sarana dan prasarana pendukung yang mengarah pada kemajuan. Adapun strategi komunikasi pembangunan yang dilakukan meliputi, menyebarluaskan pesan komunikasi yang bersifat informatif, persuasif, dan instruktif secara sistematik kepada sasaran untuk memperoleh hasil yang optimal. Menjembatani “cultural gap”, memiliki konsep komunikasi pembangunan, didukung dengan teknologi komunikasi, serta adanya partisipasi aktif dari sasaran pembangunan itu sendiri (manusia).
 
DAFTAR PUSTAKA

Depari, Eduard dan Mc Andrew, Collin, Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan, Yogyakarta, Gadjah Mada University :1991.
Effendy, Onong Uchjana, Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan, Yogyakarta, Gadjah Mada University : 1987.
Hettne, Bjorn, Komunikasi dan Modernisasi, Bandung, Alumni : 1982.
Harmoko, Ironi Pembangunan di Negara Berkembang, Jakarta, Sinar Harapan : 1985.


1 komentar: